Jawablah Salamku

Selasa, 02 Oktober 2012

SOCRATES



Socrates (ΣΩΚΡΑΤΗΣ) adalah termasuk salah satu dari beberapa filsuf kelahiran Yunani. Ia juga merupakan salah satu figur yang paling penting dalam tradisi Filsafat Barat. Menurut beberapa sumber, Socrates ini dilahirkan di kota Athena, Yunani, pada tahun 470 S.M. (tetapi sumber lain menyebutkan bahwa Socrates lahir pada tahun 469 S.M., bahkan ada pula yang menyebutkan 471 S.M.), dan wafat pada tahun 399 S.M.. Tidak ada perbedaan (ikhtilaf) mengenai tahun wafatnya Socrates.

Soctrates merupakan generasi pertama dari 3 ahli "filsafat besar" kelahiran Yunani; yakni Socrates (470-399 S.M.), Plato (427-347 S.M.), dan Aristoteles (384-322 S.M.). Socrateslah yang mengajarkan kepada Plato. Hingga pada gilirannya, Plato juga mengajarkan kepada Irsathotholees alias Aristoteles. Dengan kata lain, Plato adalah murid Socrates, dan Aristoteles adalah murid Plato. Jadi, nisbat antara Aristoteles dengan Socrates adalah "cucu murid".

Riwayat Hidup

Socrates adalah anak dari seorang ayah yang berprofesi sebagai seorang pemahat patung dari batu (stone mason) bernama SOPHRONISCUS. Dan dari seorang ibu yang bernama PHAINARETE. Ibunda Socrates, yakni Phainarete, adalah seorang perempuan yang berprofesi sebagai bidan. dari sinilah Socrates mulai "menanamkan" metode berfilsafatnya, yang selanjutnya dengan menggunakan "metode kebidanan". Socrates beristeri seorang perempuan yang bernama XANTIPPE, dan dikaruniai 3 orang anak.

Secara historis, filsafat yang dibawakan Socrates ini banyak "mengandung" dan "mengundang" pertanyaan. Mengapa ? Sebab Socrates sendiri juga tidak pernah diketahui menuliskan apa saja buah pikirannya. Namun, apa yang dikenal sebagai pemikiran Socrates, pada dasarnya adalah berasal dari catatan-catatan yang dikumpulkan dan didokumentasikan oleh beberapa muridnya, yakni PLATO (427-347 S.M.), XENOPHONE (430-357 S.M.), dan beberapa murid Socrates lainnya.

Yang paling terpopuler, di antaranya adalah Socrates dalam dialog Plato, di mana Plato ini selalu memakai nama gurunya itu sebagai "tokoh utama" dalam karya-karyanya (barangkali ta'dziman watakriman), sehingga sangat sulit untuk dapat membedakan dan memisahkan antara mana gagasan Socrates yang sesungguhnya, dan mana gagasan Plato yang disampaikan melalui mulut Socrates. Sedangkan nama Plato sendiri hanya muncul 3 kali dalam karya-karyanya sendiri, yakni 2 kali dalam Apologi dan 1 kali dalam Phaedrus. (Kendatipun demikian, jangan dii'tikadkan bahwa Plato cuma copy-paste dari gagasan-gagasan Socrates).

Konon katanya, Socrates dikenal sebagai seorang laki-laki yang tidak tampan, tidak ganteng, tidak keren, dan tidak macho. Ia juga selalu berpakaian yang sederhana dan apa adanya. Bahkan tidak pernah terlihat memakai alas kaki pada saat ia berkeliling mendatangi masyarakat Athena, Yunani, yang katanya untuk "mendiskusikan" soal filsafat.

Pada awalnya, Socrates melakukan semua itu hanya didasari oleh satu motif religius, yakni untuk membenarkan dan meluruskan suatu permasalahan mengenai suara ghaib yang pernah didengar (dialami) oleh seorang kawannya dari Oracle Delphi, yang mengatakan bahwa : "Tak ada orang yang lebih bijak melainkan Socrates....". Nah, dikarenakan Socrates ini merasa diri tidak bijak, maka dari itulah ia berkeliling sekitar Athena untuk membuktikan dan meluruskan kekeliruan tersebut. Ia mendatangi satu demi satu orang-orang yang dianggap bijak oleh masyarakat pada saat itu. Dan ia mengajak diskusi kepada mereka tentang berbagai masalah kebijaksanaan.

Berdasarkan metode berfilsafatnya, yang ia sebut-sebut sebagai metode kebidanan, Socrates juga sebenarnya menggunakan analogi seorang bidan, yang membantu proses kelahiran seorang bayi. Dengan caranya Socrates berfilsafat, yang membantu lahirnya pengetahuan melalui "diskusi panjang" dan mendalam.

Socrates selalu mengejar definisi absolute tentang suatu permasalahan kepada orang-orang yang dianggapnya bijak tersebut. Ya, meskipun orang-orang yang diberikan pertanyaannya itu kerap kali "gagal" dalam melahirkan suatu definisi yang dimaksud. Hingga pada akhirnya, Socrates sendiri "membenarkan" tentang suara ghaib itu, berdasarkan pengertian bahwa dirinya adalah yang paling bijak, karena dirinya mengetahui bahwa "dia tidak bijaksana". Sementara mereka yang merasa bijak, pada dasarnya adalah "tidak bijak", karena mereka "tidak tahu" kalau mereka adalah tidak bijaksana.

Cara berfilsafat Socrates ini, menyebabkan timbulnya rasa "sakit hati" mereka terhadap Socrates. Karena setelah penyelidikan itu, maka akan tampak jelas bahwa mereka yang dianggapnya bijak oleh masyarakat, ternyata sama sekali "tidak mengetahui" apa yang sesungguhnya mereka duga itu mereka ketahui. Rasa sakit hati inilah yang akhirnya berujung pada kematian Socrates melalui pengadilan, dengan tuduhan resmi merusak generasi muda. Sebuah tuduhan yang sebenarnya mudah dipatahkan dengan pembelaannya, sebagaimana termaktub dalam Apologi yang merupakan karya muridnya sendiri, yakni Plato.

Pada akhirnya, Socrates pun wafat dalam usia kira-kira 70 tahun (399 S.M.) dengan cara meminum racun, sebagaimana atas keputusan hakim yang diterimanya melalui pengadilan; dengan hasil voting bahwa 280 suara mendukung hukuman mati, dan 220 suara menolaknya. Namun apalah daya, secara matematis pun angka 280 itu lebih besar/lebih banyak dibandingkan angka 220. Jadi, tamatlah riwayat Socrates.

Dengan bantuan dari para sahabat dekatnya, sebenarnya Socrates masih dapat lari dari hukuman itu, sebagaimana termaktub dalam Krito. Namun Socrates tetap menolaknya, atas dasar "kepatuhannya" pada suatu kontrak yang telah ia jalani dengan hukum yang berlaku di kota Athena, Yunani.

Keberanian Socrates dalam menghadapi maut semacam ini, digambarkan dengan indah dalam Phaedo, yang merupakan hasil karya muridnya, yakni Plato. Kematian Socrates yang dianggap sebagai "ketidakadilan" dalam keputusan Majelis Hakim ini, menjadi salah satu peristiwa "peradilan paling bersejarah" dalam kalangan filosofis Barat.

Filosofi Socrates

Salah satu warisan pemikiran Socrates yang paling penting adalah ada pada cara ia berfilsafat dengan mengejar suatu definisi absolute atas suatu permasalahan melalui suatu dialektika. Pengejaran pengetahuan hakiki melalui penalaran dialektis menjadi "pembuka jalan" bagi para filsuf generasi selanjutnya. Perubahan fokus filsafat dari mulai memikirkan alam hingga manusia, juga dikatakan sebagai salah satu "jasa" atas peninggalan Socrates.

Manusia, menjadi salah satu obyek (maudhu) filsafat yang cukup penting, setelah sebelumnya banyak dilupakan oleh para pemikir tentang hakikat alam semesta. Pemikiran tentang manusia ini, menjadi "landasan" bagi perkembangan filsafat etika dan epistemologis di kemudian hari.


Pengaruh Socrates

Salah satu sumbangsih Socrates yang paling dianggap penting bagi pemikiran Filsafat Barat, tidak lain adalah "metode penyelidikannya" yang juga dikenal sebagai Methode Elenchos, yang memang telah banyak diterapkan untuk menguji suatu konsep moral yang bersifat pokok. Maka oleh sebab itulah, Socrates dikenal sebagai "Bapak" dan "sumber etika" atau filsafat moral, dan juga filsafat secara umum
.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar